Kamis, 04 Juni 2020

Peran Aktif Orang Tua Sebagai Pembentuk Karakter Siswa Yang Mendasar

PERAN AKTIF ORANG TUA SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER SISWA YANG MENDASAR
Penulis: Muh Irzan Zarif

Kata orang tua tidak bisa terlepas dari kita yang merupakan peserta didik atau orang yang sedang bergelut di dunia pendidikan. Sebab, orang tua merupakan tenaga pendidik pertama sewaktu kita baru lahir di dunia. Orang tua menjadi guru pertama kita dalam lingkup kecil yang bisa kita sebut dengan lingkup keluarga. Dalam lingkup tersebut orang tua berperan aktif untuk sang anak dalam hal menanamkan pendidikan yang semestinya diajarkan oleh orang tua kepada sang anak sebelum sang anak menginjakkan kaki ke bangku sekolah dasar. Pendidikan tersebut dapat berupa pendidikan karakter serta penanaman nilai-nilai dan moral sejak usia dini agar sang anak bisa memiliki sedikit gambaran pengetahuan tentang apa itu tingkah laku, adab, serta karakter yang baik. Ayah dan ibu kita bukan hanya merupakan orang yang telah membesarkan kita maka sudah sepatutnya kita menyebut mereka dengan sebutan orang tua apalagi karena usia kita dengan mereka bisa dibilang terpaut jauh. Ayah dan ibu seaktu-waktu bisa saja menjadi guru kita ketika dirumah. Nasehat serta amarah dari mereka bukan hanya sekedar sepatah dua patah kata yang bisa membuat kita berubah kearah yang lebih baik sesuai yang mereka inginkan. Nasehat serta amarah tersebut bisa saja berupa penyampaian materi layaknya sang guru pada bangku sekolah yang mengharapkan akan perubahan yang lebih baik kepada siswanya. Mengapa sangat penting diajarkannya pendidikan karakter pada anak karena dengan melihat perkembangan zaman yang sekarang sudah bisa kita terawang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang dengan semakin pesatnya perkembangan pengaruh teknologi. Oleh karena itu, orang tua sebagai tenaga pendidik pertama bagi sang anak sangat penting untuk mengajarkan serta menekankan apa itu pendidikan karakter, karena hanya orang tua yang merupakan kunci utama dalam mendidik anak usia dini. Seperti kutipan Widianto, E. (2015) “Orangtua memiliki peranan yang sangat besar dalam membangun karakter anak. Waktu anak di rumah lebih banyak dibandingkan di sekolah. Apalagi, sekolah merupakan lingkungan yang dikendalikan. Anak bisa saja hanya takut pada aturan yang dibuat. Sementara, rumah merupakan lingkungan sebenarnya yang dihadapi anak. Rumah adalah tempat pertama anak berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lingkungannya”.
Karakter merupakan sebuah sifat yang masing-masing dimiliki oleh setiap orang atau individu yang terbentuk karena kebiasaan. Keberagaman karakter yang berbeda-beda pada setiap individu rentan mengakibatkan kesalahpahaman antara individu dengan individu yang lainnya. Karakter yang baik adalah jaminan untuk melaksanakan apa yang baik pula, serta karakter sebaliknya akan berbeda juga. Dengan demikian, karakter yang kita miliki akan mencerminkan bagaimana kita sebenarnya, karena itu karakter bisa terlihat dari kebiasaan kita setiap hari. Pengajaran pendidikan karakter sama halnya mengajarkan kepercayaan, kejujuran, integritas serta sopan santun, tanggung jawab dan lain sebagainya. Tujuan pendidikan karaker untuk menciptakan individu yang memiliki ahlak baik. Mempunyai karakter yang baik maka akan mempengaruhi hari-hari sang anak untuk melakukan hal yang terbaik. Mereka bisa saja cenderung melakukan apa yang menurutnya baik serta yang sudah menjadi tujuan dalam hidupnya. Pendidikan karakter lebih difokuskan untuk menanamkan nilai serta mnciptakan perubahan pada kehidupan, sehingga baru bisa dapat dikatakan memiliki karakter. Mengajarkan hal ini kepada anak sangat penting karena pendidikan karakter merupakan hal yang bisa dikatakan wajib dalam menciptakan individu dengan karakter mulia.
Pendidikan karakter pada zaman sekarang ini sangat tidak diperuntukkan untuk dipelajari dibangku sekolah saja tetapi perlu juga diajarkan dirumah atau dilingkup sosial lainnya. Pentingnya pendidikan karakter bukan hanyak untuk anak usia dini, tetapi banyak pula remaja serta individu yang berusia dewasa yang masih minim pengetahuan tentang pendidikan karakter. Pendidikan seperti ini merupakan pendidikan yang kita mulai dari anggota keluarga dilingkungan keluarga. Kita ketahui bersama bahwa orang tua merupakan orang pertama yang mengajarkan pendidikan kepada kita. Terutama pada anak usia dini, dimana pada usia dini ini adalah fase-fase terpenting untuk perkembangan potensi anak bahwa pada usia yang masih dibilang cukup dini merupakan masa paling penting dalam pembentukan dasar-dasar kepribadian seperti kemampuan berpikir, serta kemampuan melalukan sosialisasi. Melihat situasi sekarang ini yang terjadi dilingkungan masyarakat anak-anak mulai jarang yang memiliki sifat atau karakter berbudi luhur yang baik. Banyak diantara anak-anak sekarang yang tidak sopan terhadap yang lebih tua. Hilang atau memudarnya nilai menghormati dan menghargai antar individu merupakan kegagalan dalam pengimplementasian pendidikan karakter bagi anak. Para orang tua harus bekerja ekstra dalam mengajarkan dan menanamkan pendidikan karakter bagi anak agar kegagalan-kegagalan bisa terhindar dengan cara memberikan nasehat motivasi-motivasi sebagai bekal bagi sang anak. Setelah dari orang tua, sang anak bisa mendapatkan pelajaran yang sama serta mulai mengimplementasikan sedikit demi sedikit apa yang sudah di dapatkannya dari orang tua. Peran serta orang tua sangat penting untuk membentuk karakter anak sejak usia dini, yang dimana karakter tersebut dapat digunakan sang anak kelingkungan sekolah maupun masyarakat luas. Seperti kutipan dari Ahmad, M.R.S dan Nuralfiah JS. (2019) “Karakter anak dapat dibentuk melalui pendidikan sejak anak masih kecil di lingkungan keluarga oleh orangtua. Oleh karena itu, apapun profesi orangtua, bagaimanapun kodisinya, dan sesibuk apapun dia, orangtua bertanggung jawab dan mempunyai peran penting dalam pembentukan dan penguatan karakter anak sebelum ia memasuki dunia sekolah dan masyarakat agar sebesar apapun pengaruh dari luar untuk merusak karakter anak, anak tersebut tetap pada karakter yang dibentuk orangtuanya. Ada 25 nilai-nilai karakter seperti “religious, jujur, bertanggung jawab, bergaya hidup sehat, disiplin, kerja keras, percaya diri, berjiwa wirausaha berpikir logis, mandiri, cinta ilmu, sadar diri, patuh, respek, santun, demokratis, ekologis, nasionalis, pluralis, cerdas, tangguh, berani mengambil resiko, dan berorientasi tindakan”
Setelah dari lingkup keluarga, sang anak bisa mendapatkan pelajaran yang sama dibangku persekolahan. Di sekolah tersebut sang anak bisa belajar lebih dalam lagi tentang pendidikan karakter serta menerapkan apa yang sudah di dapatkannya dilingkungan keluarga. Di lingkungan sekolah, sang anak diajarkan oleh seorang guru yang juga merupakan orang tua bagi sang anak jika berada dilingkungan sekolah. Seperti kutipan Ahmad, M.R.S. dan Marwati (2019) “Peran guru dalam menerapkan pendidikan karakter yaitu guru sebagai edukatif, guru sebagai motivator, guru sebagai teladan, dan guru sebagai evaluator. Faktor yang mempengaruhi peran guru dalam menerapkan pendidikan karakter yaitu faktor keluarga, faktor peserta didik dan faktor lingkungan”. 
Di lingkungan sekolah itu juga sang anak bisa bertemu dengan banyak orang yang pastinya memiliki karakter yang berbeda-beda dengan karakter sang anak. “Sekolah harus dapat memaksimalkan peran orangtua dalam upaya penguatan karakter siswa. Karena menimbang sangat pentingnya peran orangtua terhadap suksesnya pendidikan karakter yang dilaksankan oleh sekolah” kutipan oleh Kristiawan, M. dan Yeni Wulandari (2017). Oleh karena itu, sang anak dituntut harus lebih mengetahui karakter individu yang lainnya agar tidak terciptanya kesalahpahaman atau miskomuniaksi diantara satu sama lain. Berhubung karena dilingkungan sekolah terdapat jenis karakter yang berbeda-beda yang kadang mengikut pada kebudayaan masing-masing orang yang berbeda-beda seperti negara indonesia pada umumnya yang terdapat berbagai macam suku bangsa di dalamnya jadi otomatis kebudayaannya pula ikut berbeda-beda yang biasa disebut dengan multikultural atau terdapat banyak keragaman. Seperti kutipan jurnal dari Awaru, A.O.T. (2017) ”Pendidikan multikultural merupakan pendidikan yang membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan mengenal, menerima, menghargai, dan merayakan keragaman kultural dengan segala perbedaan yang menyertainya serta perlakuan proses belajar yang sama, sehingga diharapkan anak dapat memiliki karakter yang baik saat dewasa nanti. Pendidikan multikultural harus bisa memfasilitasi proses belajar mengajar yang mengubah perspektif monokultural yang esensial, penuh prasangka dan diskriminatif ke perspektif multikulturalis yang menghargai keragaman dan perbedaan, toleran dan sikap terbuka.” Menurutnya, dengan pendidikan multikultural siswa lebih ditekankan untuk bisa menerima serta menghargai keragaman kultural dengan segala perbedaan.
Dunia pendidikan indonesia tidak bisa lepas dari yang namanya pendidikan karakter dan multikultural. Karenanya, sang anak harus bisa secepatnya beradaptasi dengan keberagaman yang ada. Tidak menuntut kemungkinan dalam satu sekolah pasti ada saja kebudayaan atau adat yang berbeda dari apa yang telah di dapatkan oleh sang anak baik dari orang tuanya ataupun dari guru tenaga pengajar di sekolah tersebut. Contoh kecil seperti permainan tradisional saja yang pastinya permainan tradisional antara budaya A dan budaya B sudah pasti berbeda. Namun jangan salah, permainan tradisional juga justru bisa menjadi sarana untuk mengetahui dan memahami beberapa karakter anak yang lainnya. Permainan tradisional justru melatih sang anak untuk berpikir sambil bermain. Dalam artian, dibalik kesenangan yang di dapatkan oleh sang anak saat bermain permainan tradisional, sang anak juga berpikir akan penyelesaian dari permainan tersebut serta melatih pemahaman agar bisa mengetahui sifat orang lain yang ikut bermain dengannya. Seperti yang dikutip oleh Nur, H. (2013) “Permainan tradisional harus dikembalikan posisinya sebagai permainan anak Indonesia. Semua pihak dapat mengenalkan dan memainkan permainan tradisional bersama anak, bahkan bila perlu ada upaya untuk memodernkan permainan anak tradisional”. Menurutnya, perlunya modernisasi terhadap permainan tradisional yang dimana saat ini sudah banyak dilupakan oleh kalangan anak-anak. Mengapa hal demikian terjadi? Karena seiring perkembangan zaman dan teknologi semakin canggih, anak-anak sekarang sudah tidak bermain permainan tradisional karena sudah tergantikan oleh permainan online yang dapat dimainkan pada smartphone atau di warnet (warung internet) yang justru malah berimbas negatif kepada sang anak yang terlalu cepat mengenal dan beradaptasi dengan perubahan zaman yang semakin kesini semakin canggih. Dengan dikenalnya permainan yang hanya bisa dimainkan saat kita sedang daring (dalam jaringan) bertolak belakang dengan apa yang seharusnya bisa dicapai oleh sang anak dalam memaikan permainan tradisional. Seperti kutipan dari Nur, H. (2013) “Maraknya kecanduan games pada anak-anak Indonesia telah menimbulkan berbagai dampak yang sangat memprihatinkan mulai dari fenomena siswa SD, SMP yang bolos sekolah demi bermain games online di warnet yang tentu saja akan berpengaruh pada prestasi belajarnya, fenomena perilaku agresif pada anak, bahkan menjerumuskan anak dalam tindak kriminal seperti pencurian dan pemerkosaan, serta menyebabkan anak mengalami kepribadian ganda yang bisa berujung pada kematian. Dampak kecanduan games online pada anak merupakan masalah bangsa yang harus segera diatasi karena dapat menentukan karakter anak, yang juga merupakan karakter bangsa”. Menurutnya, permainan online dapat menimbulkan dampak yang sangat memprihatinkan bagi sang anak jika sang anak tersebut kecanduan akan hal itu. Bisa saja jika sang anak ingin bermain game online tetapi tidak memiliki uang untuk membeli paket internet atau tidak memiliki uang untuk ke warnet, bisa saja sang anak akan melakukan tindak pencurian agar bisa mendapatkan uang untuk bisa bermain game online akibat kecanduan.
Kembali ke pembahasan inti bahwa peran orang tua sangat penting bagi pendidikan karakter untuk sang anak. Jadi tidak salah jika orang tua dikatakan sebagai tenaga pendidik pertama yang mengenalkan pendidikan kepada sang anak atau dengan bahasa lainnya  orang tua sangat berperan aktif dalam pengenalan sekaligus pembentuk karakter bagi siswa yang mendasar. Hubungan anak dengan orang tua juga bisa merupakan sumber ungkapan ekspresi oleh sang anak untuk lebih mengenal lingkungan luas ataupun kehidupan sosial. Jika hal itu sudah dilakukan oleh orang tua kepada sang anak maka kembali lagi kepada output yang dihasilkan dalam pengenalan pendidikan karakter bagi sang anak. Apakah sang anak akan membentuk kelekatan aman atau sebaliknya. Seperti kutipan oleh Eliasa, E.I. (2011) “Pengasuhan anak dalam keluarga sangat erat hubungannya dengan tingkah laku lekat antara pengasuh (dalam hal ini orang tua sebagai primer dan pengasuh lainnya sebagai sekunder) dengan anak yang diasuhnya sehingga didalamnya pengasuhannya sehari-hari sangat mengedepankan nilai-nilai positif yang dianutnya baik berlandaskan agama, kepercayaan dan kebudayaan sehingga membekali anak mempunyai karakter yang kuat dalam dirinya”. Menurutnya, dalam proses pembentukan karakter bagi siswa, orang tua sebagai sumber primer atau sumber inti sedangkan yang lainnya sebagai sumber sekunder. Dalam hal ini kita sudah bisa menarik keimpulan bahwa orang tua sebagai pembentuk karakter siswa yang mendasar karena orang tua merupakan orang pertama atau sumber inti. Adapun guru yang merupakan orang tua bagi siswa ketika sedang berada dilingkungan sekolah tidak kalah berperan aktifnya dalam pembentukan karakter bagi siswa. Mengapa dikatakan demikian karena dalam membentuk karakter bagi seorang individu tidaklah gampang. Sang anak bisa saja mendekat ke arah yang salah jika dalam pembentukan karakter apa yang diajarkan oleh orang tua serta guru pada lingkungan sekolah dianggap tidak penting bagi sang anak. Karena keberhasilan suatu pembentukan karakter ketika sang anak betul betul memahami dan mampu mengimplementasikan apa yang sudah ia dapatkan dari orang tua serta guru ke arah yang lebih baik seperti berbudi pekerti yang baik, sopan dan santun terhadap sesama serta mampu bertanggung jawab dan menemukan jati diri yang sesungguhnya melalui pendidikan karakter ini walaupun seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa karakter setiap individu berbeda-beda oleh karena itu kita harus mampu pandai-pandai memahami karakter setiap orang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan untuk kedepannya apalagi kita sudah mengetahui bahwa indonesia merupakan negara yang beragam budaya di dalamnya jadi apapun yang orang lain atau individu lain nampakkan kepada kita, kita tidak boleh mengecap bahwa apa yang dia lakukan salah karena kita hidup dilingkungan yang multikultural.

Daftar Pustaka:
Ahmad, M.R.S. dan Marwati. (2019). Peran Guru Dalam Menerapkan Pendidikan Karakter Di Sma Islam Al-Azhar 12 Makassar. Jurnal Sosialisasi Pendidikan Sosiologi-FIS UNM. 62.

Ahmad, M.R.S dan Nuralfiah JS. (2019). Pendidikan Karakter Kewirausahaan Anak Di Kompleks Pasar Sudu Kelurahan Kambiolangi Kabupaten Enrekang. Jurnal Sosialisasi Pendidikan Sosiologi-FIS UNM. 81-82.

Awaru, A. O. T. (2017). Membangun Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Berbasis Multikultural Di Sekolah. Prosiding Seminar Nasional Himpunan Sarjana Ilmu-Ilmu Sosial, 2, 221–230.

Eliasa, E.I. (2011). Pentingnya Kelekatan Orang Tua Dalam Internal Working Model Untuk Pembentukan Karakter Anak. Kajian Berdasarkan Teori Kelekatan Dari John Bowlby. 18.

Kristiawan, M. dan Yeni Wulandari. (2017). Strategi Sekolah Dalam Penguatan Pendidikan Karakter Bagi Siswa Dengan Memaksimalkan Peran Orang Tua. JMKSP, 2(2), 299.

Nur, H. (2013). Membangun Karakter Anak Melalui Permainan Anak Tradisional. 93-94.

Widianto, E. (2015). Peran Orangtua Dalam Meningkatkan Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Dalam Keluarga. Jurnal PG-PAUD Trunojoyo, 2(1), 1-75.